Layangan Putus Novel PDF By Mommy ASF In Indonesian

‘Novel Layangan Putus’ PDF Quick download link is given at the bottom of this article. You can see the PDF demo, size of the PDF, page numbers, and direct download Free PDF of ‘Layangan Putus’ using the download button.

Layangan Putus Book PDF Free Download

Satu

“Tu kaaan….”

Aku tunjukkan hasil testpack bergaris dua. “Nih.”

Perasaanku campur aduk. Mas Aris menatap testpack yang kuberikan, refleks dia berkata, “Lho… terus gimana?”

“Terus gimana, terus gimana! Ya hamiiil!”

Kututup pintu kamar mandi sambil menggerutu.

Rasa kaget dan gelisah berkecamuk dalam diri. Ini adalah hamil keduaku. Aamir sulungku baru saja berusia 10 bulan. Kehamilan ini terlalu dekat.

Aku masih bercita-cita bisa lahiran spontan, tapi sepertinya semakin tipis kesempatan untuk itu. Aku mencuci tangan di wastafel, menghadap ke

cermin dan mendesah panjang.

“Haduuuh….”


Peran menjadi ibu baru saja berjalan sepuluh bulan, dan aku masih merasa belum nyaman. Post partum syndrome atau entah apalah,masih

terus menghantui. Aku acap kali merasa gelisah, dan hal tersebut acap kali membuatku menangis sendirian, di malam hari, di siang hari, di setiap sholat-sholatku.

Aku kerap dibayang! perasaan gagal karena tidak bisa melahirkan spontan. Hal ini membuatku merasa sangat sedih. Terbayang masa ketika aku menyerah pada sakitnya kontraksi.

Itu adalah pengalaman pertamaku melahirkan. Proses pembukaan sudah berjalan dua hari di rumah sakit. Kontraksi palsu datang semakin rapat.

Ya Rabb, sakitnya.

Mules hadir bertubi-tubi, tak kunjung berakhir. Berulang kali kusampaikan permintaan maaf pada Mama yang berada disampingku. Mama sengaja mengunjungi dan mendampingiku menjalani proses kelahiran cucu pertamanya. Aku akhirnya paham, luar biasa perjuangannya melahirkan.

Tiba saatnya aku tak kuasa menahan sakit. Sendi-sendi tulang panggulku terasa diremas tanpa ampun. Nyeri hebat. Mules bukan main.

Dokter memanduku mengejan. Hingga aku kepayahan, tiga kali rasa mules super dahsyat itu datang sangat rapat. Aku tak kunjung berhasil menemui bayiku.

Aku mulai frustrasi.

Mas Aris, yang berada di sisi sebelah kiri juga hadir menggenggam tangan dan menyemangatiku mulai menangis.

“Sudah ya, Mbi… mau ya, operasi saja, ya? Sakitnya cuma sebentar kok kalau operasi.”

Dua

Aku merasakan kepala Aamir menempel di punggungku.

Masyaallah, perasaan menghimpit ini datang

lagi.

Tidak ada hal yang istimewa, hanya kepalanya disandarkan ke punggungku.

Lalu muncul firasat, kini akulah yang menjadi satu-satunya sandaran mereka, tempat mereka bermanja, mengeluh, dan mengadu.

Kugenggam tangannya yang melingkar ke pinggangku. Seketika ia pun merapatkan dekapannya. Someday, ketika Abang sudah memiliki dada yang cukup bidang, Mommy lah yang akan bersandar ke Abang, ya….

Someday….

Ya, someday, batinku

Kelak, anakku yang akan menjadi labuhanku kala aku ingin sekadar mengeluh penat, lelah akan terpaan debu dijalan, atau celoteh tipis-tipis tentang pekerjaan di kantor.

Kelak, anakku yang akan menenangkanku. Kini,

puas-puaslah, Nak, bersandar ke Mommy.

Karena Mommy punya Allah sebagai tempat bersandar, bukan lagi pundak atau punggung makhluknya.

Allah yang akan memeluk Mommy, menenangkan Mommy dari segala gundah.

Tak terasa air mengalir ke pipiku. Kubuka kaca penutup wajah helm, kuhapus air mata yang tiba-tiba jatuh

Kulingkarkan tangan ke badan Arya, adik Aamir yang selisih umurnya tak sampai dua tahun. Anak keduaku ini berdiri di depan jok motor, di belakang stang. Kudekap ia erat. Ia pun refleks memegang dan mencium punggung tanganku.

Tak terasa motor yang kupacu memasuki

halaman sekolah mereka.

Kumatikan mesin motor dan kubantu turun, kemudian merapikan tas. Satu-satu menyalimiku, kukecup kening dan ubun-ubun mereka.

“Belajar ya, Nak. Yang baik dikelas, bermain. nanti sama teman-teman, ya.”

Mereka mengangguk mendengar pesanku,

tersenyum dan berlalu menuju kelas masing-masing.

Aku menatap berlalu kedalam ruangan.

keduanya

Aamir dan Arya akhirnya diterima di sekolah ini. Sebuah sekolah sederhana yang kurencanakan dari setahun lalu untuk pendidikan mereka.

Aku memasukkan nama mereka dari tahun lalu pula. Walaupun saat itu, aku belum tahu pasti perihal

kepindahanku ke kota ini. Aku bersyukur sekolah ini bersedia menerima kedua anakku di pertengahan tahun ajaran. Anakku masuk di semester kedua dimana kebanyakkan sekolah tidak bersedia menerima murid baru.

Berbeda dengan sekolahnya di Bali yang lengkap dengan segala fasilitas dan kurikulum yang kompleks.

Sekolah ini independen dan memiliki konsentrasi terhadap pendidikan agama Islam, lebih kepada cara membaca dan menghafal Qur’an.

Perutku mendadak mulas mengingat perbincangan terakhirku dengan daddy mereka.

Perbincangan yang membuatnya memutus komunikasi denganku.

Perbincangan yang membuat hubungan kami kembali memanas. Aku tidak takut kehilangan komunikasi denganya, hubungannya dengan anak anak lah yang ku khawatirkan akan ikut merenggang karena komunikasi kami kembali memburuk.

AuthorMommy ASF
Language Indonesian
No. of Pages256
PDF Size2.6 MB
CategoryNovel
Source/Creditspikiran-rakyat.com

Layangan Putus Novel PDF Free Download

Leave a Comment

Your email address will not be published.